Bukan rahasia bahwa system kehadiran (absen) di universitas atau perguruan tinggi menjadi kebijakan yang paling digusarkan mahasiswa. Para mahasiswa sering kali merasa bahwa ide kreatif dan gerak langkah mereka terbelenggu oleh pihak kampus.
Mahasiswa adalah agen of change. Konon, itulah mantera pusaka yang sering di dengungkan oleh para dedengkot kampus pada waktu mahasiswa angkatan baru menjalani masa proses orientasi kampus. Sekian semester kemudian, para mahasiswa itu baru tersadar bahwa jangkan mengubah bangsa ini, tercebur dalam pergerakan kampus pun mereka akan menghadapi segudang resiko.
Semenjak Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) di gulirkan oleh rezim Orba, mahasiswa seperti kelilangan nyali. Mereka disibukkan oleh sejumlah Kredit mata kuliah (Sistem Kredit Semester/SKS) yang harus diselesaikan. Segudang regulasi, konon katanya demi menegakkan kedisplinan dan mengikuti peraturan serombongan birokrat kampus, yang lebih condong pada kapitalisasi pendidikan.
Mau tahu regulasi mana yang cukup keras ditentang oleh mahasiswa? Presensi atau absensi atau apalah namanya. Absensi yang sangat ketat mengharuskan mereka menghadiri 80% dari total pertemuan mata kuliah tiap semesternya.
Jadi, jika ada 14 kali pertemuan. Mahasiswa punya "hak" tidak masuk empat kali. Lebih dari itu? Selamat berjumpa kembali di semester berikutnya, di mata kulaih yang sama.
Sudah jelas mengapa absensi membelenggu mahasiswa? Pergulatan mahasiswa dalam proses kehidupan social tentu butuh waktu yang bukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Ada aktualisasi diri, filterisasi nilai, dan transformasi pemahaman dalam proses tersebut.
Tentu butuh waktu yang cukup banyak. Butuh penceburan yang lebih lagi dari para mahasiswa itu.
Mahasiswa sebetulnya paham bahwa ketidak hadiran dalam proses kuliah sangat potensial membuat mereka tertinggal materi. Sebaliknya, mereka juga sadar ketika mengambil resiko tidak masuk. Mengapa? Karena yakin mampu mengejar ketertinggalan materi.
Simak saja kutipan pendapat seorang mahasiswa yang cukup "tidak suka" dengan kebijakan absensi ini. "kalo ujian, tugas segala macem mah bisa gue beresin. Gue kan nggak bego. Tapi kalo absen berpengaruh sama kelulusan mata kuliah, ya gue keteter juga."
Si pencetus pendapat ini adalah mahasiswa yang dengan proaktif berjuang kulaih sambil bekerja. Mau tahu berapa banyak mahasiswa yang merasakan dan megalami hal serupa? Kita butuh sensus nasional untuk medapatkan data yang cukup valid.
Maha Pelajar
Mahasisw secara etimologi adalah maha pelajar alias pelajar yang punya title maha, pelajar besar. Maha pelajar toh tidak hanya belajar di kampus. Tidak hanya belajar sekian teori lewat buku dan diktat. Tetapi juga memahami realitas, belajar dari situasi dan menelurkan solusi lewat analisa kondisi. Sepakat? Solusi apa yang bisa lahir dari mahasiswa yang CUMA BISA NGENDON di kampus?
Sejarah mungkin saja bisa mencatat bahwa perbudakan akan melahirkan perlawanan. Akankah sejarah mencatat lagi perlawanan intelektual para mahasiswa Indonesia uang di belenggu oleh rantai pembodohan yang sistemik?
Absensi tidak pernah mencerdaskan kehidupan bangsa, absensi hanya bisa menciptakan mahasiswa pintar. Pintar bermain curang menitipkan absen dengan memanfaatkan kelengahan dosen yang tidak teliti menghitung jumalah mahasiswa. Pintar memanfaatkan absensi agar Full supaya lulus mata kuliah dengan nilai gemilang. Kita lupa esensi dari daftar hadir. System kehadiran di buat sedemikian rupa agar mahsiswa merasa hadir adalah sebuah harga mati. Sitem kehadiran tidak di arahkan sebagai proses pembentukan sikap yang benar-benar sadar nilai sebuah tanggung jawab untuk hadir.
Sadar nilai sebuah kedisiplinan. Bukan disiplin lewat proses "beoisasi", melainkan sebuah kesadaran utuh yang telah melewati proses tahap eksplorasi pikiran dan perenungan panjang yang akhirnya membentuk kesadaran berprilaku.
Laikkah anak-anak muda itu mati daya kreasinya karena absen ketat? Pantaskah para mahasiswa tak dapat bekerja paruh waktu karena system presensi? Patutkan generasi pembaharu ini kehilangan gairah juang hanya gara-gara daftar hadir?
Satu hal lagi yang perlu kita cermati bersama. Kebijakan absensi itu juga sering membuat mereka diperlakukan tidak adil. Betapa tidak, mahasiswa cerdas ini justru mendapatkan penghargaan, berupa mendaptkan nilai yang lebih kecil, dari pada renkan mereka yang lain., yang mungkin tak secerdas dan sekreatif mereka, dan mungkin tidak menguasai materi kulah sebaik mereka. Namun, rekan-rekan mereka yang tergolong jauh lebih "pintar" memanfaatkan system absensi untuk mendongkrak nilai akademis.
Ini PR buat anasir-anasir yang terkait dengan sitem absensi di universitas. Buka mata lebar-lebar, saksikan bahwa system absensi itu menyulitkan mahasiswa. Buka kalbu dalam-dalam, rasakan bahwa system presensi itu memasung idealisme mahasiswa. Ingat, ibarat tubuh manusia, system pendidkan nasional yang sudah kronis stadium 4 ini harus segera diobati.
Jangan terjebak dalam paradigma sesat pikir yang judulnya "tidak usah mencari siapa yang salah". Untuk mencari obat yang pas, harus dikenali betul bagian mana yang menjadi sumber primer penyakit, dan sumber sekunder penyakit.
Dikirim Oleh :
TELO_TELO- SALATIGA
Kategori : Pendidikan
Mahasiswa adalah agen of change. Konon, itulah mantera pusaka yang sering di dengungkan oleh para dedengkot kampus pada waktu mahasiswa angkatan baru menjalani masa proses orientasi kampus. Sekian semester kemudian, para mahasiswa itu baru tersadar bahwa jangkan mengubah bangsa ini, tercebur dalam pergerakan kampus pun mereka akan menghadapi segudang resiko.
Semenjak Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) di gulirkan oleh rezim Orba, mahasiswa seperti kelilangan nyali. Mereka disibukkan oleh sejumlah Kredit mata kuliah (Sistem Kredit Semester/SKS) yang harus diselesaikan. Segudang regulasi, konon katanya demi menegakkan kedisplinan dan mengikuti peraturan serombongan birokrat kampus, yang lebih condong pada kapitalisasi pendidikan.
Mau tahu regulasi mana yang cukup keras ditentang oleh mahasiswa? Presensi atau absensi atau apalah namanya. Absensi yang sangat ketat mengharuskan mereka menghadiri 80% dari total pertemuan mata kuliah tiap semesternya.
Jadi, jika ada 14 kali pertemuan. Mahasiswa punya "hak" tidak masuk empat kali. Lebih dari itu? Selamat berjumpa kembali di semester berikutnya, di mata kulaih yang sama.
Sudah jelas mengapa absensi membelenggu mahasiswa? Pergulatan mahasiswa dalam proses kehidupan social tentu butuh waktu yang bukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Ada aktualisasi diri, filterisasi nilai, dan transformasi pemahaman dalam proses tersebut.
Tentu butuh waktu yang cukup banyak. Butuh penceburan yang lebih lagi dari para mahasiswa itu.
Mahasiswa sebetulnya paham bahwa ketidak hadiran dalam proses kuliah sangat potensial membuat mereka tertinggal materi. Sebaliknya, mereka juga sadar ketika mengambil resiko tidak masuk. Mengapa? Karena yakin mampu mengejar ketertinggalan materi.
Simak saja kutipan pendapat seorang mahasiswa yang cukup "tidak suka" dengan kebijakan absensi ini. "kalo ujian, tugas segala macem mah bisa gue beresin. Gue kan nggak bego. Tapi kalo absen berpengaruh sama kelulusan mata kuliah, ya gue keteter juga."
Si pencetus pendapat ini adalah mahasiswa yang dengan proaktif berjuang kulaih sambil bekerja. Mau tahu berapa banyak mahasiswa yang merasakan dan megalami hal serupa? Kita butuh sensus nasional untuk medapatkan data yang cukup valid.
Maha Pelajar
Mahasisw secara etimologi adalah maha pelajar alias pelajar yang punya title maha, pelajar besar. Maha pelajar toh tidak hanya belajar di kampus. Tidak hanya belajar sekian teori lewat buku dan diktat. Tetapi juga memahami realitas, belajar dari situasi dan menelurkan solusi lewat analisa kondisi. Sepakat? Solusi apa yang bisa lahir dari mahasiswa yang CUMA BISA NGENDON di kampus?
Sejarah mungkin saja bisa mencatat bahwa perbudakan akan melahirkan perlawanan. Akankah sejarah mencatat lagi perlawanan intelektual para mahasiswa Indonesia uang di belenggu oleh rantai pembodohan yang sistemik?
Absensi tidak pernah mencerdaskan kehidupan bangsa, absensi hanya bisa menciptakan mahasiswa pintar. Pintar bermain curang menitipkan absen dengan memanfaatkan kelengahan dosen yang tidak teliti menghitung jumalah mahasiswa. Pintar memanfaatkan absensi agar Full supaya lulus mata kuliah dengan nilai gemilang. Kita lupa esensi dari daftar hadir. System kehadiran di buat sedemikian rupa agar mahsiswa merasa hadir adalah sebuah harga mati. Sitem kehadiran tidak di arahkan sebagai proses pembentukan sikap yang benar-benar sadar nilai sebuah tanggung jawab untuk hadir.
Sadar nilai sebuah kedisiplinan. Bukan disiplin lewat proses "beoisasi", melainkan sebuah kesadaran utuh yang telah melewati proses tahap eksplorasi pikiran dan perenungan panjang yang akhirnya membentuk kesadaran berprilaku.
Laikkah anak-anak muda itu mati daya kreasinya karena absen ketat? Pantaskah para mahasiswa tak dapat bekerja paruh waktu karena system presensi? Patutkan generasi pembaharu ini kehilangan gairah juang hanya gara-gara daftar hadir?
Satu hal lagi yang perlu kita cermati bersama. Kebijakan absensi itu juga sering membuat mereka diperlakukan tidak adil. Betapa tidak, mahasiswa cerdas ini justru mendapatkan penghargaan, berupa mendaptkan nilai yang lebih kecil, dari pada renkan mereka yang lain., yang mungkin tak secerdas dan sekreatif mereka, dan mungkin tidak menguasai materi kulah sebaik mereka. Namun, rekan-rekan mereka yang tergolong jauh lebih "pintar" memanfaatkan system absensi untuk mendongkrak nilai akademis.
Ini PR buat anasir-anasir yang terkait dengan sitem absensi di universitas. Buka mata lebar-lebar, saksikan bahwa system absensi itu menyulitkan mahasiswa. Buka kalbu dalam-dalam, rasakan bahwa system presensi itu memasung idealisme mahasiswa. Ingat, ibarat tubuh manusia, system pendidkan nasional yang sudah kronis stadium 4 ini harus segera diobati.
Jangan terjebak dalam paradigma sesat pikir yang judulnya "tidak usah mencari siapa yang salah". Untuk mencari obat yang pas, harus dikenali betul bagian mana yang menjadi sumber primer penyakit, dan sumber sekunder penyakit.
Dikirim Oleh :
TELO_TELO- SALATIGA
Kategori : Pendidikan
Kontroversi nomor polisi DI 19 yang terpasang di mobil Tucuxi akhirnya dijawab Dahlan Iskan. Menteri Negara BUMN tersebut mengakui bahwa plat DI 19 itu bukan nopol asli yang dikeluarkan Polri.Nomor polisi DI 19 ini memang bukan nomor yang dikeluarkan polisi. Ini hanya aksesoris Tucuxi saja," jelas Dahlan Iskan saat memberikan keterangan kepada wartawan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2013).
Dahlan berkilah, seperti halnya sebuah aksesoris yang menempel di mobil, apa saja bisa dituliskan di sana. Seperti nama Mick Jagger (vokalis Rolling Stone) yang kalau dia mau boleh saja ditulis di Tucuxi.
Bisa saja nama Mick Jagger yang nempel di situ. Nomor polisi asli ada stempel Polri dan tertera tahunnya. Tapi di Tucuxi hanya DI 19 saja dan itu bukan nomor betulan karena mobil listrik ini belum ada aturannya," lanjut Dahlan Islan.
Sebelumnya, Polri sudah menegaskan tidak pernah mengeluarkan nomor polisi DI 19 yang terpasang di mobil listrik Tucuxi.Sampai saat ini Polri belum pernah mengeluarkan nomor polisi yang seperti itu," tegas Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol. Agus Rianto, saat dihubungi Okezone.
Dikirim Oleh :
- salatiga
Kategori : Hukum
Dahlan berkilah, seperti halnya sebuah aksesoris yang menempel di mobil, apa saja bisa dituliskan di sana. Seperti nama Mick Jagger (vokalis Rolling Stone) yang kalau dia mau boleh saja ditulis di Tucuxi.
Bisa saja nama Mick Jagger yang nempel di situ. Nomor polisi asli ada stempel Polri dan tertera tahunnya. Tapi di Tucuxi hanya DI 19 saja dan itu bukan nomor betulan karena mobil listrik ini belum ada aturannya," lanjut Dahlan Islan.
Sebelumnya, Polri sudah menegaskan tidak pernah mengeluarkan nomor polisi DI 19 yang terpasang di mobil listrik Tucuxi.Sampai saat ini Polri belum pernah mengeluarkan nomor polisi yang seperti itu," tegas Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol. Agus Rianto, saat dihubungi Okezone.
Dikirim Oleh :
- salatiga
Kategori : Hukum
Skripsi Itu Apa dan Kenapa Harus Skripsi
Growol telo-telo
-
Kategori : Pendidikan
Growol telo-telo
Selamat pagi sahabat-sahabat pembaca semuanya, tulisan kali ini akan bercerita tentang skripsi. Sahabat-sahabat ada yang tahu apa itu skripsi? yang disebelah kiri ada yang tahu, "skripsi itu berasal dari dua kata yaitu script atau kode dan si menunjukkan kata sebutan jadi kalau digabung artinya ya si kode". Oh gitu, kalau yang disebelah kanan ada yang tahu apa itu skripsi, "ehm anu pak, tugas akhir yang membuat orang susah tidur dan mimpi buruk", hahahahha itu sedikit benar tapi masih kurang tepat.
Skripsi adalah tugas akhir yang harus dikerjakan oleh seorang mahasiswa dalam rangka untuk memperoleh gelar sarjana, jadi skripsi itu isinya tentang hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa berdasarkan teori dibuku kemudian di cross cek dengan kondisi lapangan apakah sesuai teori itu dengan kondisi yang ada dimasyarakat. Dari hasil penelitian itu nantinya akan didapatkan hasil berupa data yang bisa berupa pengetahuan baru yang berbeda dengan teori di buku atau bisa juga sama dengan di buku.
Membuat skripsi itu sebenarnya mudah dan dalam waktu satu bulan bisa selesai asalkan kita dan pembimbing kita bisa intens ketemu setiap saat, yang membuat lama biasanya waktu kita ketemu dengan pembimbing yang hanya seminggu sekali atau bahkan lebih dari itu. Selain itu juga biasanya karena diri kita sendiri yang malas untuk mengerjakannya atau malas bimbingan karena sesuatu hal, ada satu yang paling besar pengaruhnya yaitu teman sekitar kita yang suka ngajakin kita main, ngeblog, dll yang membuat kita jadi lupa sama skripsi.
Dikirim Oleh :
-
Kategori : Pendidikan
SENI TARI KUDA LUMPING
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.
Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sejarah
Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Variasi Lokal
Di Jawa Timur, seni jathilan ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti Malang, Nganjuk, Tulungagung, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dalam pementasanya, tidak diperlukan suatu koreografi khusus, serta perlengkapan peralatan gamelan seperti halnya Karawitan. Gamelan untuk mengiringi tari kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.
Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.
Pagelaran Tari Kuda Lumping
Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.
Dikirim Oleh :
Walid Maula Nugroho- Salatiga
Kategori : Seni & Budaya