Jalur lingkar selatan atau ring road Salatiga, membentang dari Tingkir di dekat terminal sampai ke daerah Blotongan tepat di samping perumahan Salatiga Permai.
Pintu masuk JLS di daerah Cebongan, Argomulyo, dan pintu masuk yang lain ada di daerah Blotongan, Sidorejo.
Ruas jalan terlihat digunakan beberapa kendaraan bermotor baik roda dua maupun mobil-mobil kecil,. Rambu-rambu lalu lintas dan petunjuk jalan terlihat mulai lengkap. Sedangkan untuk penerangan, lampu-lampu jalan telah siap.
Karena belum difungsikan penuh sebagai outer ring road, JLS dipergunakan warga lokal Salatiga untuk jalan-jalan sore. Ada juga beberapa pasang muda-mudi yang terlihat asyik berfoto bersama di jalanan yang masih lengang ini. Bagi yang senang mencoba kecepatan, beberapa anak muda bahkan terlihat balapan motor dengan kecepatan tinggi. Para pedagang mulai membangun lapak-lapak jualan. Ada juga arena pertandingan burung dara , tepatnya di Pulutan Salatiga, di pinggir jalan.
Pemandangan semakin indah, sawah-sawah, gunung-gunung, langit yang indah. Semoga dengan adanya Jalur Lingkar Selatan di Salatiga ini, taraf ekonomi masyarakat semakin baik.
Ringkasan oleh:bogisubasti
Tahun Baru Imlek 2011, Gong Xi Fat Cai

Tahun Baru Cina , Imlek 2011 jatuh pada tanggal 3 Febuari 2011 sebagai hari yang sangat menguntungkan. Anak-anak diberikan hong bao, amplop merah yang penuh uang, dan hadiah. Kebanyakan perayaan pada Tahun Baru Cina identik dengan merah, yang merupakan warna keberuntungan..

Persahabatan dan hubungan keluarga adalah bagian yang sangat penting dalam Tahun Baru Cina, banyak makanan dan undangan makan malam sebagai bagian dari tradisi ini. Berbagai festival budaya digelar.

Ratusan warga membanjiri jalan dengan lentera yang mewakili kekayaan, tokoh-tokoh sejarah, tanaman, dan ditambah dengan kembang api, sehingga suasana semakin meriah. Perdamaian dan persahabatan semakin erat.

Gong Xi Fat Cai , Selamat Tahun Baru Imlek, semoga mendapat kebahagiaan dan kecukupan rejeki bagi kita semua.


Tahun Baru Imlek 2011, Gong Xi Fat Cai Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/society-and-news/culture/2107858-tahun-baru-imlek-2011-gong/
On Tuesday night, Obama followed the script closely.He sat down to what the corporate media describes as “an unusual and intimate dinner” with Hu Jintao, the CEO of the sprawling slave labor gulag and globalist dream come true in China.

After dinner, Hu Jintao and Obama attended a “pomp-filled gala” designed to celebrate with sickening pageantry what is in essence a planting of the Chinese flag on American soil.

The Associated Press admits the lavish affair with its over-the-top entreaties is designed to “soften the American public’s suspicions about China,” a nation that detains and tortures individuals for exercising their rights to freedom of association, freedom of religion and freedom of expression.

According to the corporate media, Obama will lecture China on the persecution of Tibetans, Uhgurs, Falun Gong, environmental degradation, currency manipulation, theft of intellectual property, imbalance of and unfair trade practices, human rights violations and the release of Liu Xiaobo, the Nobel Prize winner imprisoned by China’s authoritarian leadership.

China will in turn take the U.S. to task for supposedly initiating a global depression that will undoubtedly dwarf the Great Depression of the 1930s, accumulating a staggering debt, and interfering in its internal affairs.

Since the establishment of the Federal Reserve, economic depressions have become scientifically engineered affairs, as Congressman Lindberg said in the Congressional Record on December 22, 1913, after the Federal Reserve Act was passed in the dead of the night.

We are told the Chinese are mighty sore about their undervalued Treasury stake, but this is a cover too. QE2 and the printing of funny money out of thin air by the Federal Reserve is a shrewd if cynical device engineered to take down the once Great United States.

China owns us. There will be blood – but not before Obama, Biden, Clinton, and the political class grovel and kiss the ring and this act is covered up by a complaisant corporate media.

Debt, trade, discussion, pomp and circumstance – all of this is little more than cover. Hu Jintao and his minions have arrived in the district of criminals for one reason and one reason only – to plant a red flag of corporatism – that is, fascism – on Constitution Avenue.

According to the globalists, China is the next evolutionary step in human history. Our future is a high-tech prison planet, electronic panopticon, and eventually a killing field unless we do something about it – and soon.

“Whatever the price of the Chinese Revolution, it has obviously succeeded not only in producing more efficient and dedicated administration, but also in fostering high morale and community of purpose. The social experiment in China under Chairman Mao’s leadership is one of the most important and successful in human history,” David Rockefeller told the New York Times.

Mao’s “social experiment” has come to America. The holy writ of Maoism was forged out of Marxism, the latter a contrivance of Wall Street and the banksters.

Cartel capitalism has enjoyed a long standing love affair with communism, as the late Gary Allen so eloquently pointed out.

“If one understands that socialism is not a share-the-wealth program, but is in reality a method to consolidate and control the wealth, then the seeming paradox of superrich men promoting socialism becomes no paradox at all,” Allen wrote. “Instead it becomes the logical, even the perfect tool of power-seeking megalomaniacs. Communism, or more accurately, socialism, is not a movement of the downtrodden masses, but of the economic elite.”

Power-seeking megalomaniacs built the China Miracle from the ground up over the last few decades and now it has come to claim a stake in America.

Hu Jintao did not arrive here to eat dinner in the the Old Family Dining Room at the White House and talk shop with Obama the teleprompter reader and his Goldman Sachs, CFR, Trilateral Commission, and Bilderberg advisors.

Stock up with Fresh Food that lasts with eFoodsDirect (Ad)

Hu Jintao arrived to plant the flag and initiate the next phase in a globalist effort to turn the planet into a slave gulag and ultimately a well-oiled killing machine meticulously designed by an inbred gaggle of eugenicist psychopaths।

Source : www.infowars.com
Ringkasan oleh:bogisubasti
Gayus Tambunan bersalah atas empat tuduhan korupsi,termasuk penyuapan. Kasus ini telah mencengkeram bangsa dan hal yang mempermalukan penegak hukum yakni mengapa aparat penegak hukum, tergiur dengan uang suap Gayus Tambunan untuk keluar dari penjara puluhan kali, termasuk untuk perjalanan ke luar negeri.

Mereka telah membuka sebuah jendela di korupsi pemerintah, dan merusak reputasi presiden sebagai pembaharu anti-korupsi.

Selama persidangan, Tambunan mengaku telah membantu perusahaan-perusahaan kuat dalam menghindari pajak, membayar jaksa dan pejabat polisi, dan menghilangkan stres-nya dengan meninggalkan sel penjara untuk menonton turnamen tenis internasional di Bali.

Dia juga mengakui telah diterbangkan ke Singapura, Kuala Lumpur dan Macau menggunakan paspor palsu saat seharusnya dalam tahanan.

Saat ini Para pengamat hukum berpendapat, bahwa putusan hakim terlalu ringan bagi Gayus Tambunan. yakni denda 300 juta dan kurungan selama 7 tahun.

Sebenarnya ini adalah momen penting dalam pemberantasan korupsi di Indonesia, karena ketika Gayus dijatuhi hukum yang seberat-beratnya, maka yang lain pun akan jera dan tidak akan berani melakukan korupsi. Dan sebenarnya siapakah Intelegent,pengusaha di balik Gayus Tambunan? kita tunggu kabar terbaru , mengenai proses hukum di Indonesia.

Hukuman Penjara Gayus Tambunan,Terlalu Ringan, Tidak Membuat Efek Jera Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/society-and-news/politic/2103811-hukuman-penjara-gayus-tambunan-terlalu/
Resensi oleh:bogisubasti
House Of Glass / Rumah Kaca Karya Pramoedya Ananta Tour merupakan novel yang muncul dari pembacaan realita maupun sejarah yang kuat, novel ini adalah salah satu dari karya Pram diantara roman empat jilid lainnya / tetralogi. Sebuah novel kepahlawanan, gairah, dan pengkhianatan,dan memberikan kesimpulan yang spektakuler untuk sebuah literatur yang hebat sebagai salah satu karya besar sastra modern. Pada awal Novel Rumah Kaca ini,Dikisahkan Minke,sebagai penulis dan pemimpin gerakan , kini dipenjara - dan narasi telah beralih ke Pangemanann, mantan polisi, orang pribumi yang mempunyai tugas memata-matai dan melaporkan mereka yang melanjutkan perjuangan kemerdekaan . Namun pemburu menjadi yang diburu. Pangemanann adalah korban dari hati nurani sendiri dan telah datang untuk mengagumi musuhnya. Ia harus memutuskan apakah hukum ini adalah untuk menjaga hak-hak rakyat atau untuk mengontrol rakyat. Ia takut akan kehilangan posisinya, keluarganya, dan menghormati dirinya. Pangemanann ,terakhir melihat bahwa lawan sebenarnya tidak Minke dan para pengikutnya, melainkan dinamika dan energi dari suatu masyarakat.



Novel ini sebenarnya ingin mengangkat realita, bahwa segala sesuatu yang dilakukan rakyat Indonesia ( digambarkan sebagai sosok Minke) dimonitor oleh kolonialis (digambarkan sebagai sosok Pangemanann). Sosok Pangemanann digambarkan sebagai orang pribumi yang mengabdi ke kolonialis, alias tangan panjang mereka dalam rangka sebagai agen untuk mongontrol rakyat Indonesia.

Sekarang ini,di Indonesia banyak muncul tokoh mirip Pangemanann dengan berbagai wujud maupun kelompok. Wujud pengontrolan itu dapat berupa tokoh, kebijakan, organisasi maupun kerjasama. Terimakasih semoga artikel / resensi singkat ini bermanfaat bagi kita.
House of Glass - Rumah Kaca Novel Karangan Pramoedya Ananta Toer Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2101371-house-glass-rumah-kaca-novel/
Resensi oleh:bogisubasti
Sebagian besar dari kita , mungkin tidak bisa menulis esai tanpa memakai referensi misalnya buku. Tapi tidak bagi Pram. Pramoedya Ananta Toer, dikenal sebagai Pram, tidak menggunakan catatan historis untuk menulis novel ini, sebenarnya itu memberitahu kita tentang sejarah Nusantara Beliau dituduh menjadi seorang pengelola Partai Komunis yang diduga melakukan pemberontakan 1965, dia diasingkan di Pulau Buru tanpa akses informasi. Selain itu, sebelum ia dimasukkan ke dalam penjara, semua buku yang ia telah kumpulkan selama bertahun-tahun, dibakar oleh militer pemerintah Orde Baru. Oleh karena itu, dia tidak bisa menggunakan referensi dalam novel ini. Tapi meskipun hanya mengandalkan daya ingatnya, data historis tentang apa yang dia tulis, sangat meyakinkan.



Dari judulnya, Arus Balik, bisa kita bayangkan bagaimana perubahan radikal terjadi. Memang, novel ini (historis) memberikan kita tentang perubahan karakter orang Nusantara. Sampai abad ke-15, orang-orang (terutama kerajaan Majapahit dan Sriwijaya), yang mampu menaklukkan banyak negara lain yang terletak di bagian utara Nusantara. Tapi setelah abad ke-15 (terutama setelah kedatangan armada Belanda ') mereka menjadi defensif, dalam arti bahwa saat ini bangsa Indonesia dikalahkan oleh negara-negara barat yang datang dari utara Nusantara. Arus balik merupakan tema besar yakni misalnya bahwa bangsa ini belum mampu secara optimal memproduksi barang, berbeda dengan dulu, Nusantara mampu menjual rempah-rempah ke luar negeri, tapi keadaan sekarang berbalik. Kita saat ini menjadi seorang yang konsumeristik. Arus ini sekarang berbalik , kita yang menjadi pangsa pasar, ataupun dengan kata lain, kita yang dikuasai. Semasa Gajah Mada, Arus bergerak dari Selatan ke Utara.

Arus Balik Novel Karangan Pramoedya Ananta Tour Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2101451-arus-balik-novel-karangan-pramoedya/

SALATIGA TEMPOE DOELOE
TERMINAL, HOTEL , LAPANGAN PANCASILA,TUGU, UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA,PASAR, RUMAH SAKIT,SENJOYO, PERMANDIAN KALITAMAN,SEKOLAH KOMUNIS, DAN LAIN-LAIN