Resensi oleh:bogisubasti
House Of Glass / Rumah Kaca Karya Pramoedya Ananta Tour merupakan novel yang muncul dari pembacaan realita maupun sejarah yang kuat, novel ini adalah salah satu dari karya Pram diantara roman empat jilid lainnya / tetralogi. Sebuah novel kepahlawanan, gairah, dan pengkhianatan,dan memberikan kesimpulan yang spektakuler untuk sebuah literatur yang hebat sebagai salah satu karya besar sastra modern. Pada awal Novel Rumah Kaca ini,Dikisahkan Minke,sebagai penulis dan pemimpin gerakan , kini dipenjara - dan narasi telah beralih ke Pangemanann, mantan polisi, orang pribumi yang mempunyai tugas memata-matai dan melaporkan mereka yang melanjutkan perjuangan kemerdekaan . Namun pemburu menjadi yang diburu. Pangemanann adalah korban dari hati nurani sendiri dan telah datang untuk mengagumi musuhnya. Ia harus memutuskan apakah hukum ini adalah untuk menjaga hak-hak rakyat atau untuk mengontrol rakyat. Ia takut akan kehilangan posisinya, keluarganya, dan menghormati dirinya. Pangemanann ,terakhir melihat bahwa lawan sebenarnya tidak Minke dan para pengikutnya, melainkan dinamika dan energi dari suatu masyarakat.



Novel ini sebenarnya ingin mengangkat realita, bahwa segala sesuatu yang dilakukan rakyat Indonesia ( digambarkan sebagai sosok Minke) dimonitor oleh kolonialis (digambarkan sebagai sosok Pangemanann). Sosok Pangemanann digambarkan sebagai orang pribumi yang mengabdi ke kolonialis, alias tangan panjang mereka dalam rangka sebagai agen untuk mongontrol rakyat Indonesia.

Sekarang ini,di Indonesia banyak muncul tokoh mirip Pangemanann dengan berbagai wujud maupun kelompok. Wujud pengontrolan itu dapat berupa tokoh, kebijakan, organisasi maupun kerjasama. Terimakasih semoga artikel / resensi singkat ini bermanfaat bagi kita.
House of Glass - Rumah Kaca Novel Karangan Pramoedya Ananta Toer Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2101371-house-glass-rumah-kaca-novel/
Resensi oleh:bogisubasti
Sebagian besar dari kita , mungkin tidak bisa menulis esai tanpa memakai referensi misalnya buku. Tapi tidak bagi Pram. Pramoedya Ananta Toer, dikenal sebagai Pram, tidak menggunakan catatan historis untuk menulis novel ini, sebenarnya itu memberitahu kita tentang sejarah Nusantara Beliau dituduh menjadi seorang pengelola Partai Komunis yang diduga melakukan pemberontakan 1965, dia diasingkan di Pulau Buru tanpa akses informasi. Selain itu, sebelum ia dimasukkan ke dalam penjara, semua buku yang ia telah kumpulkan selama bertahun-tahun, dibakar oleh militer pemerintah Orde Baru. Oleh karena itu, dia tidak bisa menggunakan referensi dalam novel ini. Tapi meskipun hanya mengandalkan daya ingatnya, data historis tentang apa yang dia tulis, sangat meyakinkan.



Dari judulnya, Arus Balik, bisa kita bayangkan bagaimana perubahan radikal terjadi. Memang, novel ini (historis) memberikan kita tentang perubahan karakter orang Nusantara. Sampai abad ke-15, orang-orang (terutama kerajaan Majapahit dan Sriwijaya), yang mampu menaklukkan banyak negara lain yang terletak di bagian utara Nusantara. Tapi setelah abad ke-15 (terutama setelah kedatangan armada Belanda ') mereka menjadi defensif, dalam arti bahwa saat ini bangsa Indonesia dikalahkan oleh negara-negara barat yang datang dari utara Nusantara. Arus balik merupakan tema besar yakni misalnya bahwa bangsa ini belum mampu secara optimal memproduksi barang, berbeda dengan dulu, Nusantara mampu menjual rempah-rempah ke luar negeri, tapi keadaan sekarang berbalik. Kita saat ini menjadi seorang yang konsumeristik. Arus ini sekarang berbalik , kita yang menjadi pangsa pasar, ataupun dengan kata lain, kita yang dikuasai. Semasa Gajah Mada, Arus bergerak dari Selatan ke Utara.

Arus Balik Novel Karangan Pramoedya Ananta Tour Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2101451-arus-balik-novel-karangan-pramoedya/